Pemikiran Al-Ghazali tentang Pendidikan islam

Posted by Unknown Label:


PEMIKIRAN AL-GHAZALI TENTANG PENDIDIKAN ISLAM
BAB I
PENDAHULUAN
AL-GHAZALI
Imam al-Ghazali dilahirkan pada tahun 450 Hijrah bersamaan dengan tahun 1058 Masehi di bandat Thus, Khurasan (Iran). Ia berkun`yah Abu Hamid karena salah seorang anaknya bernama Hamid. Gelar beliau al-Ghazali ath-Thusi berkaitan dengan Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali ath-Thusi asy-Syafi’i (lahir 1058 di Thus, Propinsi Khurasan, Persia (Iran), wafat 1111, Thus) adalah seorang filosof dan teolog muslim Persia, yang dikenal sebagai Algazel di dunia Barat abad Pertengahan.gelar ayahnya yang bekerja sebagai pemintal bulu kambing dan tempat kelahirannya yaitu Ghazalah di Bandar Thus, Khurasan. Sedangkan gelar asy-Syafi’i menunjukkan bahwa beliau bermazhab Syafi’i. Ia berasal dari keluarga yang miskin. Ayahnya mempunyai cita-cita yang tinggi yaitu ingin anaknya menjadi orang alim dan saleh. Imam Al-Ghazali adalah seorang ulama, ahli pikir, ahli filsafat Islam yang terkemuka yang banyak memberi sumbangan bagi perkembangan kemajuan manusia. Ia pernah memegang jawatan sebagai Naib Kanselor di Madrasah Nizhamiyah, pusat pengajian tinggi di Baghdad. Imam Al-Ghazali meninggal dunia pada 14 Jumadil Akhir tahun 505 Hijriah bersamaan dengan tahun 1111 Masehi di Thus. Jenazahnya dikebumikan di tempat kelahirannya.
Sifat Pribadi
Imam al-Ghazali mempunyai daya ingat yang kuat dan bijak berhujjah. Ia digelar Hujjatul Islam karena kemampuannya tersebut. Ia sangat dihormati di dua dunia Islam yaitu Saljuk dan Abbasiyah yang merupakan pusat kebesaran Islam. Ia berjaya menguasai pelbagai bidang ilmu pengetahuan. Imam al-Ghazali sangat mencintai ilmu pengetahuan. Ia juga sanggup meninggalkan segala kemewahan hidup untuk bermusafir dan mengembara serta meninggalkan kesenangan hidup demi mencari ilmu pengetahuan. Sebelum beliau memulakan pengembaraan, beliau telah mempelajari karaya ahli sufi ternama seperti al-Junaid Sabili dan Bayazid Busthami. Imam al-Ghazali telah mengembara selama 10 tahun. Ia telah mengunjungi tempat-tempat suci di daerah Islam yang luas seperti Mekkah, Madinah, Jerusalem, dan Mesir. Ia terkenal sebagai ahli filsafat Islam yang telah mengharumkan nama ulama di Eropa melalui hasil karyanya yang sangat bermutu tinggi. Sejak kecil lagi beliau telah dididik dengan akhlak yang mulia. Hal ini menyebabkan beliau benci kepada sifat riya, megah, sombong, takabur, dan sifat-sifat tercela yang lain. Ia sangat kuat beribadat, wara, zuhud, dan tidak gemar kepada kemewahan, kepalsuan, kemegahan dan mencari sesuatu untuk mendapat ridho Allah SWT.
Pendidikan Al-Ghazali
Pada tingkat dasar, beliau mendapat pendidikan secara gratis dari beberapa orang guru karena kemiskinan keluarganya. Pendidikan yang diperoleh pada peringkat ini membolehkan beliau menguasai Bahasa Arab dan Parsi dengan fasih. Oleh sebab minatnya yang mendalam terhadap ilmu, beliau mula mempelajari ilmu ushuluddin, ilmu mantiq, usul fiqih, filsafat, dan mempelajari segala pendapat keeempat mazhab hingga mahir dalam bidang yang dibahas oleh mazhab-mazhab tersebut. Selepas itu, beliau melanjutkan pelajarannya dengan Ahmad ar-Razkani dalam bidang ilmu fiqih, Abu Nasr al-Ismail di Jarajan, dan Imam Harmaim di Naisabur. Oleh sebab Imam al-Ghazali memiliki ketinggian ilmu, beliau telah dilantik menjadi mahaguru di Madrasah Nizhamiah (sebuah universitas yang didirikan oleh perdana menteri) di Baghdad pada tahun 484 Hijrah. Kemudian beliau dilantik pula sebagai Naib Kanselor di sana. Ia telah mengembara ke beberapa tempat seperti Mekkah, Madinah, Mesir dan Jerusalem untuk berjumpa dengan ulama-ulama di sana untuk mendalami ilmu pengetahuannya yang ada. Dalam pengembaraan, beliau menulis kitab Ihya Ulumuddin yang memberi sumbangan besar kepada masyarakat dan pemikiran manusia dalam semua masalah.
Karya-Karya Al-Ghazali
Teologi :
• Al-Munqidh min adh-Dhalal
• Al-Iqtishad fi al-I`tiqad
• Al-Risalah al-Qudsiyyah
• Kitab al-Arba’in fi Ushul ad-Din
• Mizan al-Amal
• Ad-Durrah al-Fakhirah fi Kasyf Ulum al-Akhirah
Tasawuf :
• Ihya Ulumuddin (Kebangkitan Ilmu-Ilmu Agama), merupakan karyanya yang terkenal
• Kimiya as-Sa’adah (Kimia Kebahagiaan)
• Misykah al-Anwar (The Niche of Lights)
Filsafat :
• Maqasid al-Falasifah
• Tahafut al-Falasifah,buku ini membahas kelemahan-kelemahan para filosof masa itu, yang kemudian ditanggapi oleh Ibnu Rushdi dalam buku Tahafut al-Tahafut (The Incoherence of the Incoherence).
Fiqih :
• Al-Mushtasfa min `Ilm al-Ushul
• Al-Wajiz
Logika :
• Mi`yar al-Ilm (The Standard Measure of Knowledge)
• al-Qistas al-Mustaqim (The Just Balance)
• Mihakk al-Nazar fi al-Manthiq (The Touchstone of Proof in Logic)
BAB II
PEMBAHASAN

Esensi Pengkajian Ilmu

Posted by Unknown Label:


BAB I
PENDAHULUAN
1.1.latar belakang
Filsafat tertarik terhadap aspek kualitatif daripada benda-benda atau segala sesuatu, terutama dalam makna dan nilai-nilainya. Filsafat menolak dan mengabaikan setiap aspek yang autentik dari penglaman manusia. Hidup mendorong kita untuk mebuat pilihan dan bertindak berdasarkan sekala nilai-nilai. Filsafat berusaha memformulasikan makna dan nilai-nilai dalam cara yang paling dapat diterima oleh akal.
Kegiatan keilmuan tidaklah dilakukan secara misterius,melainkan semuanya bersifat terbuka.Segenap unsur dan langkah yang terlibat didalamnya diungkapkan dengan jelas sehingga memungkinkan semua pihak mengetahui keseluruhan proses yang telah dilakukan.pengungkapan ini dilakukan secara tersurat  dengan mempergunakan berbagai media yang tersedia dalam komunikasi keilmuan.

1.2.rumusan masalah
1.      Apa yang dikaji dalam bidang kajian filsafat?
2.      Apa yang dibahas dalam filsafat?
3.      Apa yang dimaksud dengan metafisika?
4.      Apa saja batasan dalam kajian ilmu?






BAB II
PEMBAHASAN
ESENSI PENGKAJIAN ILMU
2.1. Bidang kajian filsafat
Para filosof berusaha memecahkan masalah-masalah yang penting bagi manusia,baik secara langsung ataupun tidak langsung.melalui pengujian yang kritis,filosof mencoba untuk mengevaluasi informasi-informasi dan kepercayaan-kepercayaan yang kita miliki tentang alam semesta serta kesibukan dunia manusia.filisof mencoba membuat generalisasi, sistematika,dan gambaran-gambaran yang konsisten tentang semua hal yang kita ketahui dan kita pikirkan.
Titus mengemukakan ada tiga tugas utama dari filsafat ialah:
A.    Mendapatkan pandangan yang menyeluruh
B.     Menemukan makna dan nilai-nilai dari segala sesuatu
C.     Menganalisis dan mengandalkan kritik terhadap konsep-komsep
Filsafat mencoba untuk memadukan hasil-hasil dari berbagai ilmu yang berbeda kedalam suatu pandangan dunia yang konsisten. Filosof cenderung untuk tidak menjadi spesialis seperti ilmuan, menganalisis dengan suatu pandangan yang menyeluruh tentang benda-benda atau masalah-masalah.
Filsafat tertarik terhadap aspek kualitatif daripada benda-benda atau segala sesuatu, terutama dalam makna dan nilai-nilainya. Filsafat menolak dan mengabaikan setiap aspek yang autentik dari penglaman manusia. Hidup mendorong kita untuk mebuat pilihan dan bertindak berdasarkan sekala nilai-nilai. Filsafat berusaha memformulasikan makna dan nilai-nilai dalam cara yang paling dapat diterima oleh akal.

2.2. Apa yang dibahas filsafat?
Bahwa filafat adalah berfikir secara radikal, sistematis,dan universal tentang segala sesuatu.jadi yang menjadi objek pemikiran filsafat ialah segala sesuatu yang ada. Semua yang  ada menjadi bahan pemikiran filsafat.namun karna filsafat merupakan usaha berfikir manusia secara sistematis,maka ini perlu mensistematisasikan segala sesuatu yang ada itu.  kita perlu mengklasifikasikan segala sesuatu yang ada.

2.3.Pengertian dan jenis metafisika
Secara etimologi metafisika berasal dari kata”meta” dan “fisika” (yunani).”meta” berarti sesudah, dibelakang atau melampui,dan “fisika”,berarti alam nyata. Kata fisik (physic) disini sama dengan “nature”,yaitu alam. Metafisika merupakan cabang dari filsafat yang mempersoalkan tentang hakikat, yang tersimpul dibelakang dunia fenomenal. Metafisika melampui pengalaman ,objeknya diluar hal yang dapat ditangkap pancaindra.

2.4. Jenis metafisika
Metafisika dapat dibagi menjadi dua bagian,yaitu:
a.       Ontologi
Ontolaogi mempersoalkan tentang esensi dari yang ada,hakikat adanya dari segala sesuatu wujud yang ada
b.      Metafisika khusus
Mempersoalkan theologi,kosmologi,dan antropologi

2.5. Metafisika dan pengetahuan ilmiah
Dari semua cabang filsafat,metafisika kedengarannya paling abstrak,sehingga dalam penggunaan biasa,adalah sebuah  teori yang tampaknya sulit masuk akal,yang sering disebut metafisik.



2.6.Teori nilai
Metafisika mencoba mengetahui sifat terakhir dari kenyataan,dan dengan pengetahuan ini menyusun seluruh kenyataan dalam suatu sistem yang mencakup semua.

Sebenarnya dengan teori pengetahuan ini kita sudah tiba pada teori nilai.teori nilai menyelidiki proses dan isi penilaian yaitu proses-proses yang mendahului,mengiringkan,malahan menentukan semua kelakuan manusia. Karna itu teori nilai menghadapi manusia sebagai makhluk yang berkelakuan sebagai objeknya
2.7. Metafisika sebagai teori tentang sifat terakhir kenyataan
Sejak Sokrates,yang menyebutnya dirinya seorang filsuf yaitu orang yang tahu.bahwa ia tak tahu, tetapi yang ingin tahu sampai sekarang,filsafat telah dirumuskan dengan berbagai-bagai cara meskipun definisi-definisi ini berbeda-beda ,tetapi pada umumnya sekaliannya dapatlah dikembalikan kepada pengertian metafisika teori pengetahuan dan teori nilai,yang merupakan tiga cabang filsafat yang penting.sepanjang sejarah ,metafisika, teori pengetahuan dan teori nilai,terintegrasi dalam berbagai-bagai sistem filasafat.tiap-tiap sistem itu mempunyai struktur dan tekanan yang berbeda-beda berdasarkan konsep yang berbeda-beda tentang sifat kenyataan yang terakhir,sedangkan konsep-konsep itu dihasilkan pula oleh filsuf yang berbeda-beda pendirian,metodalogi dan cara berfikirnya.

2.8. Asumsi Dalam Ilmu
Ilmu  mempunyai tiga asumsi mengenai objek empiris:
a.       Menganggap objek-objek tertentu mempnyai keserupaan satu sama lain,umpamanya dalam hal bentuk, struktur, sifat, dan sebagainya, berdasarkan ini maka kita dapat mengelompokkan beberapa objek yang serupa kedalam satu golongan.
b.      Anggapan bahwa suatu benda tidak mengalami perubahan dalam jangka waktu tertentu.Kegiatan keilmuan bertujuan mempelajari tingkah laku suatu objek dalam suatu keadaan tertentu.Kegiatan ini jelas tidak mungkin dilakukan bila objek selalu berubah-ubah tiap waktu.walaupun begitu tidak mungkin kita menuntut adanya kelestarian yang absolut,sebab dalam perjalanan waktu tiap benda akan mengalami perubahan.karna itu ilmu hanya menuntut adanya kelestarian yang relatif, artinya sifat-sifat pokok dari suatu benda tidak berubah dalam waktu tertentu
c.       Determinisme merupakan asumsi ilmu yang ketiga. Kita menganggap tiap gejala bukan merupakan suatu kejadian yang bersifat kebetulan.

2.9. Kelebihan dan kekurangan ilmu
Dibandingkan dengan pengetahuan lain maka ilmu berkembang dengan sangat cepat. Salah satu faktor utama yang mendorong perkembangan ini ialah faktor sosial dari komunikasi ilmiah yang membuat penemuan individual segera diketahui dan dikaji okeh anggota masyarakat ilmuan lainnya.tersedia alat komunikasi tertulis dan komunikasi elektronik dalam bentuk majalah,buletin,jurnal,micro film,telek dan sebagainya sangat menunjang intensitas komunikasi ini.

Sejarah ilmu telah mencatat banyak kebenaran ilmiah dimasa lalu yang sekarang ini tidak dapat diterima lagi karena manusia telah menemukan kebenaran lain yang ternyata lebih dapat diandalkkan.sifat pragmatis inilah yang sebenarnya merupakan kelebihan dan sekaligus kekurangan ilmu. Sikap pragmatis dari ilmu adalah cocok dengan perkembangan peradaban manusia,telah terbukti secara nyata peranan ilmu dalam membangun peradaban tersebut.



2.10.        Kelebihan dan kekurangan berfikir secara keilmuan
Bahwa kelebihan ilmu terletak pada pengetahuan yanga tersusun secara logis dan sistematis serta telah teruji kebenarnnya.faktor pengujian ini memberikan karaktristik yang unik kepada proses kegiatan keilmuan.

Kegiatan keilmuan tidaklah dilakukan secara misterius,melainkan semuanya bersifat terbuka.Segenap unsur dan langkah yang terlibat didalamnya diungkapkan dengan jelas sehingga memungkinkan semua pihak mengetahui keseluruhan proses yang telah dilakukan.pengungkapan ini dilakukan secara tersurat  dengan mempergunakan berbagai media yang tersedia dalam komunikasi keilmuan.

2.11.        Batas pengkajian ilmu
a.       Tidak semua permasalahan yang dipersolkan manusia dalam hidup dan kehidupannya dapat dijawab dengan tuntas oleh ilmu pengetahuan itu.
b.      Nilai kebenaran ilmu pengetahuan itu bersifat positf relatif atau nisbi dalam arti tidaklah mutlak kebenarannya.
c.       Batas dan relativitas ilmu pengetahuan bermuara pada filsafat dalam arti bahwa semua permasalahan yang berada diluar atau diatas jangkauan dari ilmu pengetahuan itu diserahkan kepada filsafat untuk menjawabnya.







BAB III
PENUTUP
3.1. KESIMPULAN
Bahwa kelebihan ilmu terletak pada pengetahuan yanga tersusun secara logis dan sistematis serta telah teruji kebenarnnya. Faktor pengujian ini memberikan karaktristik yang unik kepada proses kegiatan keilmuan.

Kegiatan keilmuan tidaklah dilakukan secara misterius,melainkan semuanya bersifat terbuka.Segenap unsur dan langkah yang terlibat didalamnya diungkapkan dengan jelas sehingga memungkinkan semua pihak mengetahui keseluruhan proses yang telah dilakukan.pengungkapan ini dilakukan secara tersurat  dengan mempergunakan berbagai media yang tersedia dalam komunikasi keilmuan. 

3.2. saran
Esensi pengkajian ilmu harus digali, didayagunakan, dan dikembangkan dengan mengacu pada asas-asas sebagaimana yang dikemukakan diatas. Melalui aplikasi dalam proses penyampaian seluruh materi pendidikan berfikir secara logika, diharapkan proses itu dapat diterima, difahami, dihayati, dan diyakini sehingga pada gilirannya memotivasi peserta didik untuk mengamalkannya dalam bentuk nyata.
Mungkin hanya itu yang dapat kami simpulkan dari beberapa uraian diatas. Semoga bermanfaat bagi kita semua, khususnya generasi muda yang akan terjun dimasyarakat tentunya harus mempunyai bekal yang matang dan baik.



Daftar Pustaka
Burhanuddin Salam, Logika Materiil,jakarta,Rineka Cipta,1997
Mundiri, Logika, Jakarta: Raja Garfindo Persada,
Poejawijatna, Logika Filsafat Berfikir, Jakarta, Rineka Cipta, 1992

Nilai Ilmu Pengetahuan

Posted by Unknown Label:

A.  Pendahuluan

Rasa keingintahuan manusia ternyata menjadi titik-titik perjalanan manusia yang takkan pernah usai. Hal inilah yang kemudian melahirkan beragam penelitian dan hipotesa awal manusia terhadap inti dari keanekaragaman realitas. Proses berfilsafat adalah titik awal sejarah perkembangan pemikiran manusia dimana manusia berusaha untuk mengorek, merinci dan melakukan pembuktian-pembuktian yang tak lepas dari kungkunga
Kemudian dirumuskanlah sebuah teori pengetahuan dimana pengetahuan menjadi terklasifikasi menjadi beberapa bagian. Melalui pembedaan inilah kemudian lahir sebuah konsep yang dinamakan ilmu. Pengembangan ilmu terus dilakukan, akan tetapi disisi lain pemuasan dahaga manusia terhadap rasa keingintahuannya seolah tak berujung dan menjebak manusia ke lembah kebebasan tanpa batas. Oleh sebab itulah dibutuhkan adanya pelurusan terhadap ilmu pengetahuan agar tidak terjadi kenetralan tanpa batas dalam ilmu. Karena kenetralan ilmu pengetahuan hanyalah sebatas metafisik keilmuan. Sedangkan dalam penggunaannya diperlukan adanya nilai-nilai moral.
             Sejak saat pertumbuhannya, ilmu sudah terkait dengan masalah moral. Satu contoh ketika Copernicus (1473—1543) mengajukan teorinya tentang kesemestaan alam dan menemukan bahwa “bumi yang berputar mengelilingi matahari” dan bukan sebaliknya seperti yang dinyatakan dalam ajaran agama maka timbullah interaksi antara ilmu dan moral (yang bersumber pada ajaran agama) yang berkonotasi metafisik. Secara metafisik ilmu ingin mempelajari alam sebagaimana adanya, sedangkan di pihak lain terdapat keinginan agar ilmu mendasarkan kepada pernyataan-pernyataan (nilai-nilai) yang terdapat dalam ajaran-ajaran di luar bidang keilmuan (nilai moral), seperti agama. Dari interaksi ilmu dan moral tersebut timbullah konflik yang bersumber pada penafsiran metafisik yang berkulminasi pada pengadilan inkuisisi Galileo pada tahun 1633. Galileo oleh pengadilan agama dipaksa untuk mencabut pernyataan bahwa bumi berputar mengelilingi matahari.
             Adapun nilai dalam hal ini merupakan tema baru dalam filsafat: Aksiologi, cabang filsafat yang mempelajarinya, muncul untuk pertama kalinya pada paroh kedua abad ke-19. Penemuan ini merupakan salah satu penemuan yang terpenting dalam filsafat, secara mendasar mengandung arti pembedaan antara ada (being)dengan nilai (value), baik pada zaman kuno maupun pada zaman modern. Orang tanpa menyadarinya telah menempatkan nilai dibawah ada dan mengukur keduanya dengan tolak ukur yang sama. Dewasa ini, penelitian terhadap berbagai nilai yang terisolasi ini menemukan makna baru manakala orang mencatat bukan hanya jalinan yang lembut yang mengikatnya menjadi satu, namun juga sinar yang mengarahkan semua riset atas hakikat nilai dalam proses pengkajian masing-masing kawasan ini sebagai satu keseluruhan. Maka, etika dan estetika- warisan filsafat kuno- belakangan ini melangkah jauh ke arah peningkatan kemampuan untuk mengkaji nilai sebagaimana adanya.
             Dalam pembahasan nilai ini, akan dibahas masalah nilai, etika, dan estetika yang merupakan bagian dari aksiologi (nilai ilmu).
B.   Pokok Bahasan
1.Pengertian Nilai dan Ilmu Pengetahuan
a.  Pengertian nilai
         Nilai secar etimologi berasal dari kata value (inggris) yang berasal dari velere (latin) yang mempunyai arti kuat,baik, dan berharga. Nilai adalah suatu yangberharga,baik, dan berguna bagi manusia. Nilai dapat diartikan suatu penghargaan atau suatu kulitas terhadap suatu hal yang dapat menjadi dasar penentu tingkah laku manusia.
b.   Pengertian ilmu pengetahuan
         Ilmu adalah rangkaian aktivitas penelaahan yang mencari penjelasan suatu metode untuk memperoleh pemahaman secara empiris mengenai dunia ini dalam berbagai seginyadan kedeluruhan pengetahuan sistematis yang menjelaskan berbagai gejalayamg ingin dimengerti manusia.
         Pengetahuan adalah hasil tahu manusia terhadap sesuatu, atau segala perbuatuan manusioa untuk memahami suatu obyekyang dihadapinya,hasil usaha manusia untuk memahami suatu obyek tertentu.
         Ilmu pengetahuan diambil dari kata science (bahasa inggris) yang diberasal dari bahasa latin scientia dari bentuk kata kerja  scinre yang berarti mempelajari,mengetahui. Dalam pengertian yang sempit science diartikan untuk menunjukkan ilmu pengetahuan alam yang sifatnya kuantitatif dan obyek. Ilmu pada prinsipnya merupakan usaha untuk mengorganisasikan dan mensistematisasikan common sense, suatu pengetuan yang berasal dari pengalaman dan pengamatan dalm kehidupan sehari-hari,namun dilanjutkan dengan suatu pemikiran secara cermat dan teliti dengan menggunakan berbagai metode.
         Dalam “Epistimologi Indonesia”,kita jumpai pengertian sebagai berikut: Ilmu pengetahuan,suatu sistem dari pengetahuan dari berbagai pengetahuan yang masing-masing mengenai suatu lapangan pengalaman tertentu, yang disusun sedemikian rupa menurut asas-asas tertentu, hingga menjadi kesatuan; suatu system dari berbagai pengetahuan yang masing-masing didapatkan sebagai hasil pemeriksan-pemeriksaan yang dilakukan secara teliti dengan memakai metode-metode tertentu (induksi,deduksi).
          Ilmu pengetahuan mempunyai dua jenis (Soejono Soemargono, 1983) yaitu :
1). Pengetahuan non ilmiah adalah pengetahuan yang diperoleh dengan menggunakan cara-cara yang tidak termasuk dalam kategori metode ilmiah.
2). Pengetahuan ilmiah adalah segenap hasil pemahaman manusia yang di peroleh dengan menggunakan metode-metode ilmiah. 
2.Teori Tentang Nilai
         Aksiologi difahami sebagai teori nilai, Sedangkan nilai merupakan kualitas yang tidak tergantung pada benda dan benda itu sendiri merupakan sesuatu yang bernilai, kemudian  ketidaktergantungan ini mencakup setiap betuk empiris. Nilai merupakan satu jenis obyek yang sama sekali tidak dimasuki oleh rasio tetapi dengan demikian nilai menyatakan diri melalui perpsepsi sentimental dalam referensi cinta benci.
         Dalam rangka menunjukkan makna yangmendalam dari pemahaman nilai dengan menggunakan sarana persepsi sentimental telah diterapkan perian fenomenologis atas kehidupan emosional yang memungkinkan baginya untuk memberikan berbagai tingkat dunia emosional yang tidak biasa dibedakan dengan jelas faktanya bahwa hakikat nilai menyatakan dirikepada kita dalam intuisi emosional.
         Adapun salah satu ciri has yang hakiki dari nilai adlah penampakannya dalam urutan hierarkis sekalipun bagi orang yang menerima dengan tanpa mempersoalkan kebenaran dari proposisiini adalah sulit untuk menentkan criteria mana yang harus dipakai untuk menentukan hierarki. Jelas bahwa criteria empiris tidak dapat digunakan, krieteria tersebut dapat mengatakan seperti apa tebal hierarkis sebuah masyarakat atau bangsa. Namun tidak dapat mengatakan apakah tebal ini harus ada. Scheler percaya bahwa nilai itu tersusun dalam sebuah hubungan hearkis a priori. Akan tetapi hiearki baginya harus di temukan di dalam hakikat nilai itu sendiri.
3.Hakikat Nilai
a)     Nilai berasal dr kehendak: voluntarisme.
b)    Nilai berasal dr kesenangan: Hedonisme
c)     Nilai berasal dr kepentingan. (Perry)
d)    Nilai berasal dr hal yg lebih disukai (preference). Martineau.
e)     Nilai berasal dr kehendak rasio murni. (I.Kant).
4. Etika
a. Pengertian etika
         Etika secara etimologi berasal dari bahasa yunani yaitu ethos yang berarti watak kesusilaan atau adat. Secara terminiologi etika adalah cabang filsafat yang membicarakan tingkah laku atau perbuatan manusia dalam hubungannya dengan baik buruk.
         Ruang lingkup etika meliputi bagaimana caranya agar dapat hidup lebih baik dan bagaimana caranya untuk berbuat baik serta keburukan.
         Etika dapat dibagi menjadi etika deskriptif dan etika normatife. Etika deskriptif hanya melukiskan, menggambarkan, menceritakan,apa adanya, tidak memberikan penilaianm tidak memilih mana yang baik dan mana yang buruk, dan tidak mengajarkan bagaimana seharusnya berbuat. Contohnya sejarah.
         Adapun etika normative sudah memberikan penilaian mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang harus dikerjakan dan mana yang tidak. Etika normative dapat dibagi menjadi etika umum dan etika khusus. Etika umum  membicarakan tentang prinsip-prinsip umum, seperti apakah nilai, motivasi suatu perbuatan, suara hati dan segbagainya. Etika khusus adalah pelaksanaan dari prinsip-prinsip umum, seperti etika pergaulan, etika dalam pekerjaan, dan sebagainya.
         Pembagian etika yang lain adalah etika individual dan etika sosial. Etika individual membicarakan perbuatan atau tingkah laku manusia sebagai individu. Misalnya tujuan hidup manusia. Etika sosial membicarakan tingkah laku atau perrbuatan manusia dalam hubungannya dengan orang lain. Misalnya baik atau buruk dalam keluarga, masyarakat dan Negara.
         Etika dan moral sama artinya, tetapi dalam pemakaian sehati-hari ada sedikit perbedaan. Moral atau moralitas dipakai untuk perbuatan yang sedang dinilai. Adapun etika dipakai untuk pengkajian system nilai yang ada.
         Obyek etika menurut Franz Magnis Suseno (1987) adalah pernyataan moral apabila diperiksa segala jenis moral, pada dasarnya hanya dua macam, yaitu pernyataan tentang tindakan manusia dan pernyatan tentang manusia sendiri atau tentang unsure-unsur kepribadian manusia seperti motif-motif, maksud atau watak.
b.  Aspek etika ilmu pengetahuan
          Manusia sebagai manipulator dan articulator dalm mengambil manfaat ilmu pengetahuan. Dalam psikologi, dikenal konsep diri dai freud yang dikenal dengan nama ”id”,”ego” dan”super-ego”. “Id” adalah lepribadian yangmenyimpan dorongan-dorongan biologis (hawa nafsu dan agama) dan hasrat-hasrat yang mengandung dua instik: libido(konstruktif) dan thanatos (destruktif dan agresif). “ Ego” adalah penyelaras penyelaras antara”Id”dan realita dunia luar.”super-ego”adalah polisi kepribadian yang mewakili ideal, hati nurani(Jalaluddin Rahmat, 1985). Dalam agama, ada sisi destruktif manusia yaitu sisi angkara murka (hawa nafsu).
          Ketika manusia memenfaatkan ilmu pengetahuan untuk tujuan praktis, mereka dapat saja hanya memfungsikan “id”-nya, sehingga dapat dipastikanbahwa manfaat pengetahuan mungkin diarahkan untuk hal-hal yang destruktif. Misalnya dakam pertrungan antara in dan ego, dimana ego kalah sementara super-eg0 idak berfungsi optimal, maka tentu-atau juga nafsu angkara murka yang mengendalikan tindak manusia menjatuhkan pilihan dalam memanfaatkan ilmu pengetahuan- amatlah tidak mungkin kebaikan diperoleh manusia,atau malah mungkin kehancuran. Kisah dua perang dunia, kerusakan lingkungan, penipisan lapisan ozon, adalh pilihan id dari kepribadian manusia yang mengalahkan “ego” maupun “supr-ego”-nya.
           Oleh kerena itu, pada tingkat ksiologis, pembicaraan tentang nilai-nilai adalah hal yang mutlak. Nilai ini menyangkut etika, moral, dan tanggungjawab mansia dalam mengembangkan ilmu pengetahuan untuk dimanfaatkan bagi sebesar-besar kemaslahatan manusia itu sendiri. Karena dalm penerapannya, ilmu pengetahuan juga punya bias negatef dan destruktif, makadiperlikan patron nilai dan norma untuk mengendalikan  potensi “id” (libido) dan nafsu angkara murka manusia ketika hendak bergelut dengan pemanfaatan ilmu pengetahuan . disinilah etika menjadi ketentuan mutlak, yang akan menjadi well-supporting bagi pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi untu meningkatkan derajat hidup serta kesejahteraan dan kebahagiaan manusia. Hakikat moral, tempat ilmuan mengembalikan kesusesannya.
          Etika adalah pemahasan mengenai baik (good), buruk (bad), semestinya(ought to), benar (right), dan salah (wrong). Yang paling menonjol adalah tentang baik  tau good dan teori tentang kewajiban (obligation). Keduanya bertalian dengan hati nurani. Bernaung di bawah filsafat moral, etika merupakan tatanan konsep yang melahirkan kewajiabn itu, dengan argument bahwa kalau sesuatu tidak dijalankan berarti akan mendatangkan bencana atau keburukanbagi manusia. Oleh kerena itu, etika pada dasarnya adalah seperangkat kewajiban-kewajiban tentang kebaikan (good) yang pelaksananya (baca:executor) tidak ditunjuk. Executor-nya menjadi jelas ketika sang subyek berhadap opsi baik atau buruk, yang baik itulah materi kewajiban executor dalam situasi ini.
c.  Persamaan dan perbedaan  etika dengan etiket
Persamaan etika dan etiket adalah :
1). Menyangkut perilaku manusia, jadi hewan tidak mengenal etika dan etiket.
2). Mengatur perilaku manusia dan secara normative, artinya member norma bagi perilaku manusia dan dengan demikian menyatakan apa yang harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan (Bertens,1993).
Menurut Bertens ada empat perbedaan yang sangat penting antara etika dan etiket. Yaitu:
1). Etiket menyangkut cara suatu perbuatan yang harus dilakukan manusia. Sedangkan etika menyangkut masalah apakah suatu perbuatan boleh dilakukan atau tidak.
2). Etiket hanya berlaku dalam pergaulan, apabila tidak ada orang lain hadir atau tidak ada saksi mata, maka etiket tidak berlaku. Sedangkan etika selalu berlaku walupun tidak ada saksi mata.
3). Etiket bersifat relative, yang dianggap tidak sopan dalam suatu kebudayaan bisa saja dianggap sopan dalam kebudayaan  yang lain. Sedankan etika lebih absolut, prinsip-prinsipnya tidak bisa ditawar-tawar.
4). Etiket hanya memandang manusia dari segi lahiriyah saja. Sedangkan etika menyangkut manusia dari segi dalam.
5. Estetika
a . Pengertian Estetika
Estetika dari bahasa yunani aesthesis atau pengamatan adalah cabang filsafat yang berbicara tentang keindahan. Objek dari estetika adalah pengalaman akan keindahan. Dalam estetika yang dicari adalah hakikat dari keindahan, bentuk- bentuk pengalaman keindahan, diselidiki emosi manusia sebagai reaksi terhadap yang indah , agung , tragis , bagus , mengharukan dan sebagainya.
Dalam estetika di bedakan menjadi estetika deskriptif dan estetika normatif . Estetika deskriptif menggambarkan gejala gejala pengalaman keindahan , sedangkan estetika normatif mecari dasar pengalaman itu .
Perbedaan lain dari estetika adalah esteti filsafati dengan esteti ilmiah definisi estetika merupakan suatu persoalan filsafat yang sejak dulu sampai sekarang cukup di perbincangkan para filsuf dan diberikan jawaban yang berbeda-beda perbedaan itu terlihat dari berlainannya sasaran yang dikemukakan.
The Liang Gie merumuskan sasaran-sasaran itu sebagai berikut :
1.   Keindahan
2.   Keindahan dalam alam dan seni
3.   Keindahan khusus pada seni
4.   Keindahan ditambah seni
5.   Seni ( segi penciptaan dan kritik seni serta hubungan dan peranan seni)
6.   Citra rasa
7.   ukuran nilai baku
8.   Keindahan dan kejelekan
9.   Nilai non moral ( nilai estetis )
10.  Benda estetis
11.Pengalaman estetis . ( the liang gie , 1983 , hlm . 20 – 21 )
Estetis filsafat adalah estetis yang menelaah sasararanya secara filsafat dan sering disebut estetis tradisional. Estetetis filasafat ada yang menyebut estetis analisis, karena tugasnya hanyalah mengurai.
Estetis ilmiah adalah estetis yang menelaah estetis dengan metode metode ilmiah , yang tidak lagi merupakan cabang filsafat pada abad xx. Estetis modern untuk membedakannya dengan estetis tradisional yang bersifat filsafati.
C.  Penutup
         Aksiologi difahami sebagai teori nilai, Sedangkan nilai merupakan kualitas yang tidak tergantung pada benda dan benda itu sendiri merupakan sesuatu yang bernilai, kemudian  ketidaktergantungan ini mencakup setiap betuk empiris. Aksiologi memberikan jawaban untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu di pergunakan. Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah nilai. Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan nilai. Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma nilai. Bagaimana mengaitkan nilai ilmu ilmu pengetahuan dengan etika dan estetika.

Daftar Pustaka
Suriasumantri,Jujun S. 2003. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan
Tafsir,Ahmad.2006. Filsafat Ilmu .Bandung:Rosdakarya